.webp)
Gejala saluran kemih bagian bawah merupakan kumpulan gejala akibat adanya kelainan pada saluran kencing yang dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. Gejala ini dibagi menjadi gejala iritatif, gejala penyumbatan, dan gejala setelah kencing. Gejala iritatif di antaranya adalah frekuensi kencing yang sering, rasa ingin kencing yang tidak tertahankan, rasa nyeri atau terbakar saat kencing, dan nyeri pada kandung kemih.
Pada gejala penyumbatan, dapat terjadi kondisi sulit untuk memulai kencing, pancaran kencing melemah, mengejan saat kencing, kencing terasa tidak tuntas, dan kencing bercabang. Gejala setelah berkemih meliputi rasa tidak tuntas setelah kencing dan urin menetes setelah kencing.
Kencing bercabang merupakan salah satu bagian dari gejala saluran kemih bagian bawah akibat adanya sumbatan. Pada kencing bercabang, pancaran urin dapat mengalir ke dua arah atau lebih. Hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab yang mengakibatkan adanya sumbatan pada saluran kencing yang terjadi pada ginjal, kandung kemih, kelenjar prostat, dan saluran di penis.
Sangat penting untuk mencari tahu penyebab dari kencing bercabang tiap individu karena berkaitan dengan pemilihan manajemen terapi. Penyebab utama kencing bercabang adalah adanya sumbatan yang dapat terjadi karena beberapa faktor lainnya. Berikut penyebab kencing bercabang secara spesifik, yaitu:
Striktur uretra merupakan salah satu penyebab utama kencing bercabang pada pria. Kondisi ini disebabkan oleh penyempitan uretra karena jaringan parut akibat infeksi, cedera, atau riwayat operasi.
Stenosis meatal adalah kondisi penyempitan pada lubang di ujung penis (meatus) yang seringnya disebabkan karena perlengketan uretra.
Fimosis terjadi ketika bukaan kulup penis terlalu kencang yang dapat menimbulkan gejala nyeri dan kencing bercabang.
Prostatitis non-bakterial adalah peradangan pada kelenjar prostat yang bukan disebabkan oleh infeksi bakteri.
Benign Prostate Hyperplasia terjadinya pembesaran kelenjar prostat yang menghalangi saluran berkemih.
Batu ginjal atau batu kandung kemih dapat menyebabkan sumbatan pada saluran kemih. Batu pada saluran kemih dapat menghalangi aliran urin saat berkemih sehingga menyebabkan kencing bercabang.
Infeksi saluran kemih menyebabkan peradangan pada saluran kencing sehingga memengaruhi aliran kencing.
Prolaps organ panggul dapat terjadi karena otot panggul yang lemah yang dapat disebabkan karena penuaan, kurangnya olahraga, dan riwayat operasi.
Terdapat tiga jenis prolaps organ panggul, di antaranya:
Sistokel: kondisi ketika kandung kemih turun ke dalam vagina. Sistokel adalah jenis prolaps yang paling umum.
Rektokel: bagian rektum yang menonjol ke dinding belakang vagina.
Prolaps uterus (rahim): kondisi uterus turun ke dalam vagina.
Polip uretra adalah benjolan kecil dan bersifat jinak yang terdapat di uretra. Polip uretra sering terjadi pada wanita.
Tidak, kencing bercabang adalah kondisi saat berkemih yang tidak normal. Hal ini terjadi karena beberapa penyebab yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jika gejala ini diabaikan dan tidak diobati akan menimbulkan komplikasi, seperti ISK berulang, kehilangan kontrol kandung kemih yang menyebabkan sulit menahan kencing, kesulitan saat kencing, bahkan dapat mengalami kerusakan ginjal yang dapat berakibat fatal menjadi gagal ginjal.
Jika Anda mengalami kencing bercabang ketika berkemih, baik itu bersifat terus-menerus ataupun tidak teratur, maka Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Dokter spesialis yang tepat menangani keluhan tersebut adalah dokter spesialis urologi yang mendalami bidang terkait saluran kemih, baik pada pria, wanita, maupun anak-anak.
Sebagian besar gejala kencing bercabang dapat diobati dengan baik. Pengobatan kencing bercabang pada prinsipnya adalah mengidentifikasi penyebabnya. Dengan demikian, dokter akan melakukan pengobatan sesuai dengan penyebabnya.
1. Meatotomi
Meatotomi adalah prosedur operasi untuk memperlebar lubang uretra akibat stenosis meatal atau striktur uretra.
2. Krim steroid
Krim steroid menjadi lini awal pengobatan pada fimosis. Jika krim steroid tidak efektif, dapat dilakukan prosedur operasi untuk mengobati fimosis.
3. Pengobatan pada BPH
Pemberian obat golongan α1-blocker untuk menghambat kontraksi otot polos prostat sehingga dapat mengurangi gejala.
Pemberian obat golongan 5α-reductase inhibitor untuk mengecilkan volume prostat.
Transurethral resection of the prostate (TURP) merupakan tindakan pembedahan dengan minimal invasif untuk mengobati BPH.
1. Mengobati prolaps organ panggul
Dengan melakukan latihan untuk mengencangkan otot panggul yang disebut senam Kegel.
Jika gejalanya buruk, dapat dilakukan tindakan memasukkan alat pesarium ke dalam vagina. Pesarium adalah alat yang terbuat dari silikon yang berfungsi untuk menahan panggul pada tempatnya.
Jika kedua cara tersebut tidak berhasil, akan dilakukan tindakan operasi bergantung pada jenis prolaps organ panggulnya.
2. Mengobati batu kandung kemih
Terapi dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur SWL (shock wave lithotripsy) yang merupakan tindakan non-invasif.
Dapat juga dilakukan operasi terbuka.
3. Mengobati polip uretra
Polip uretra dapat diangkat dengan menggunakan prosedur sistouretroskopi.
Selain mengobati dengan terapi medis, pengobatan dapat juga dilakukan dengan modifikasi gaya hidup. Perlu dipastikan Anda dapat mengosongkan kandung kemih sebisa mungkin. Selain itu, dapat juga dilakukan latihan yang dapat membantu melatih kekuatan otot panggul.
Kencing bercabang merupakan tanda bahwa ada sumbatan pada saluran kemih. Jika Anda ragu dan khawatir, maka Anda bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi.
Di RS Primecare, tersedia dokter spesialis urologi. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!
Sumber:
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/urinary-incontinence/symptoms-causes/syc-20352808

1. Menjelaskan apakah penderita diabetes boleh minum air es?
2. Menjelaskan zat gizi serta indeks/beban glikemik dari air es
3. Menjelaskan cara minum air es untuk penderita diabetes yang aman
4. Menjelaskan kapan penderita diabetes harus ke dokter dan contoh dokter spesialis yang bisa dikunjungi untuk konsultasi
Pola makan sehat merupakan salah satu terapi yang harus dijalankan oleh penderita diabetes. Makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh penderita diabetes sangat perlu diperhatikan karena akan memengaruhi kadar gula dalam darah dan juga proses metabolismenya. Oleh sebab itu, banyak makanan dan minuman yang sebaiknya tidak dikonsumsi oleh penderita diabetes untuk tetap menjaga kadar gula dalam kondisi normal. Air es tentu menjadi minuman primadona, terutama di kala cuaca panas. Namun, apakah air es boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes?
Ya, penderita diabetes boleh minum air es.
Karena adanya pembatasan konsumsi makanan dan minuman pada pasien diabetes, air es ini dapat menjadi alternatif cara minum air putih agar terasa lebih segar.
Penderita diabetes sangat dibatasi untuk mengonsumsi minuman dingin berperisa karena dikhawatirkan akan menambah kalori yang nantinya akan meningkatkan kadar gula dalam darahnya. Sebaliknya, mengonsumsi air es sangat aman karena pada dasarnya air es adalah air putih dingin yang memiliki nilai 0 kalori.
Air es atau air putih dingin tidak memiliki kandungan gizi makro, seperti karbohidrat, protein, lemak sehingga air putih mengandung 0 kalori. Walaupun begitu, ada jenis air putih yang memiliki kandungan gizi mikro, seperti mineral dalam jumlah sedikit yang sering disebut air mineral. Kandungan gizi mineral ini tidak lantas menambahkan nilai kalori pada air putih.
Berapa nilai indeks glikemik dan beban glikemik air putih? Sebelumnya, kita ketahui dahulu apa itu indeks glikemik dan beban glikemik. Indeks glikemik adalah pengukuran seberapa cepat makanan/minuman yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah. Indeks glikemik memiliki rentang nilai 0-100. Sementara, beban glikemik air adalah perhitungan indeks glikemik disertai jumlah porsi karbohidrat yang dikonsumsi. Karena air putih tidak mengandung karbohidrat, maka nilai indeks glikemik dan beban glikemiknya adalah 0.
Seringkali pasien diabetes merasa bosan dengan air es dan ingin mengonsumsi minuman segar lainnya, tetapi tentunya dengan pilihan yang tetap aman untuk dikonsumsi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengonsumsi air es yang aman bagi penderita diabetes, yaitu:
Untuk mendapatkan cita rasa atau sensasi berbeda ketika minum air putih, pasien dapat memilih air putih karbonasi (sparkling water).
Campurkan air es dengan perasan lemon. Hal ini dapat memberikan sensasi rasa segar di mulut. Akan tetapi, perlu diperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsinya.
Buat menjadi infused water dengan menambahkan potongan buah atau sayur, seperti jeruk, buah beri-berian, timun, peach/persik, daun mint, atau herbal segar lainnya. Setelah air sudah dicampurkan dengan potongan buah ataupun tambahan lain, infused water dapat disimpan dahulu di dalam lemari pendingin agar aroma dan rasanya menyatu.
Penderita diabetes yang sudah terdiagnosis oleh dokter harus mengonsumsi obat antidiabetes setiap hari sehingga sangat perlu untuk rutin ke dokter. Selain itu, dibutuhkan juga terapi non farmakologis, seperti perubahan gaya hidup.
Untuk memantau kondisi pasien, makan pasien perlu untuk berkonsultasi ke dokter dengan kondisi seperti di bawah ini:
Pasien diabetes harus melakukan kontrol rutin minimal satu bulan sekali, baik itu oleh dokter umum, atau dokter spesialis penyakit dalam, atau pun dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes bergantung pada kondisi pasien dan status rujukannya.
Pasien yang mengalami kesulitan mengatur pola makan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik untuk mendapatkan informasi tentang diet yang sesuai dengan kebutuhan gizi harian dan pembatasan kalori yang dibutuhkan. Selain itu, pasien juga bisa mendapatkan saran terkait aktivitas fisik yang dapat menunjang pola hidup sehat.
Jika pasien mengalami komplikasi akut, seperti hipoglikemia, sesak napas, tidak sadarkan diri, berat badan yang menurun dengan cepat dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan sekunder atau tersier untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin.
Jika didapatkan gejala yang mengarah pada komplikasi lainnya, seperti neuropati (gangguan saraf) atau retinopati (gangguan pada retina mata) diabetes, maka pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis berdasarkan jenis komplikasinya. Misalnya, jika ada gangguan saraf, maka sebaiknya ke dokter saraf.

GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah kondisi yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan karena katup kerongkongan yang tidak berfungsi secara normal dan bisa menyebabkan iritasi. Gejalanya meliputi rasa panas di dada (heartburn), mulut terasa pahit atau asam, nyeri ulu hati, batuk kronis, hingga sulit menelan.
Sebagian besar penderita GERD dapat pulih dengan perubahan gaya hidup dan obat untuk menurunkan asam lambung. Namun, pada kasus tertentu operasi menjadi pilihan untuk mengatasi refluks dan mencegah kerusakan esofagus lebih lanjut.
Jadi, kapan GERD memerlukan operasi? Simak penjelasannya di artikel ini!
Penanganan pertama pada GERD adalah dengan memperbaiki pola makan, menghindari faktor pencetus, dan konsumsi obat-obatan. Obat lini pertama untuk GERD adalah golongan Proton Pump Inhibitor (PPI) yang bekerja dengan menghambat enzim khusus di dinding lambung, sehingga produksi asam lambung berkurang. Contoh obat golongan PPI adalah omeprazole, lansoprazole, dan pantoprazole.
Namun, pada beberapa kasus, perubahan pola hidup dan konsumsi obat tidak berhasil mengatasi GERD. Pada kondisi tersebut, operasi GERD dapat dipertimbangkan.
Berdasarkan konsensus “International Consensus Regarding Preoperative Examinations and Clinical Characteristics Assessment to Select Adult Patients for Antireflux Surgery (ICARUS)”, beberapa rekomendasi untuk menentukan pasien yang bisa menjalani operasi antirefluks adalah:
Pasien dengan keluhan seperti heartburn (rasa panas di dada), nyeri ulu hati, dan rasa pahit di mulut yang menunjukkan perbaikan setelah mengonsumsi obat penekan asam lambung golongan PPI dianggap kandidat ideal untuk operasi.
Respon positif terhadap obat menunjukkan bahwa sumber keluhannya memang refluks asam, sehingga operasi untuk memperbaiki refluks asam lambung cenderung memberi hasil baik.
Pasien bisa dipertimbangkan menjalani operasi jika ditemukan gangguan struktural, seperti hernia hiatus, esofagitis erosif menengah hingga berat, atau Barrett’s esophagus. Temuan ini menandakan bahwa refluks asam lambung sudah menyebabkan masalah pada jaringan kerongkongan, sehingga tindakan operasi untuk menahan refluks dapat memberikan manfaat jangka panjang.
Sebelum operasi, pasien perlu menjalani pemeriksaan penunjang seperti endoskopi saluran cerna, manometri esofagus, serta pemantauan pH ± impedansi. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan adanya refluks asam lambung yang tidak normal dan menilai kondisi fungsi otot kerongkongan.
Pada sebagian pasien, pemeriksaan radiologi seperti “barium swallow” diperlukan untuk menilai anatomi bagian atas saluran pencernaan. Tes ini membantu dokter memutuskan teknik operasi terbaik dan mencegah kegagalan prosedur akibat kelainan anatomi yang tidak terdeteksi.
Beberapa pasien merasakan gejala seperti heartburn, tetapi hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa refluks bukan penyebab utama. Misalnya, pada heartburn fungsional atau tidak ada kelainan, pemantauan pH normal, atau kondisi lain seperti eosinophilic esophagitis. Pada kelompok ini, operasi tidak dianjurkan karena tidak akan memperbaiki keluhan, bahkan bisa memperburuknya.
Operasi GERD bukan diputuskan hanya karena pasien merasa tidak nyaman. ICARUS menegaskan bahwa keputusan bedah harus mempertimbangkan gabungan faktor seperti gejala khas, respon obat, hasil endoskopi, hasil pengukuran pH, dan fungsi kerongkongan. Pendekatan ini membantu memastikan operasi benar-benar bermanfaat dan menurunkan risiko hasil yang kurang memuaskan.
Pilihan operasi disesuaikan dengan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan medis. Prosedur yang umum dilakukan antara lain:
Operasi ini merupakan operasi paling umum dan merupakan standar emas untuk GERD. Operasi ini dilakukan dengan mengikat bagian bagian atas lambung mengelilingi lower esophageal sphincter untuk memperkuat katup yang mencegah asam naik.
Metode ini dilakukan dengan menempatkan cincin kecil berisi magnet di sekitar ujung kerongkongan. Magnet menjaga katup tetap tertutup tetapi dapat membuka saat pasien menelan.
Prosedur tanpa sayatan melalui mulut dengan alat endoskopi untuk membentuk kembali katup kerongkongan. Teknik ini menjadi pilihan bagi pasien yang ingin tindakan minimal invasif.
Teknik endoskopi ini menggunakan kateter dengan 4 jarum di sfingter esofagus bawah. Jarum menembus mukosa, lalu radiofrekuensi diaplikasikan untuk meningkatkan tekanan katup esofagus bawah atau Lower Esophageal Sphincter (LES) dan menurunkan frekuensi relaksasi katup esofagus.
Prosedur ini direkomendasikan untuk pasien GERD refrakter dengan esofagitis ringan (grade A–B) dan fungsi peristaltik serta relaksasi LES normal, tanpa hernia hiatus >2 cm atau Barrett esophagus panjang.
Sama seperti tindakan bedah lainnya, operasi GERD tetap memiliki risiko seperti disfagia, gas berlebih, atau gejala refluks yang kambuh, sehingga evaluasi sebelum operasi sangat penting untuk memilih kandidat terbaik.
Operasi GERD biasanya dilakukan oleh dokter spesialis bedah digestif. Sebelum tindakan, pasien juga akan dinilai oleh spesialis penyakit dalam gastroenterologi untuk memastikan diagnosis dan mempersiapkan kondisi sebelum operasi. Pendekatan multidisiplin ini penting untuk mencapai hasil terbaik.
Seperti prosedur medis lainnya, operasi GERD juga memiliki potensi risiko antara lain:
Infeksi luka operasi
Kesulitan menelan sementara atau menetap
Perut terasa penuh atau kesulitan bersendawa
Perdarahan atau cedera organ sekitar
Reaksi terhadap anestesi
Pada sebagian kecil pasien, gejala mungkin masih muncul setelah operasi meskipun lebih ringan dibandingkan sebelum tindakan.
Operasi GERD dapat memberi manfaat seperti:
Mengurangi atau menghilangkan heartburn dan gejala refluks asam lambung
Mengurangi ketergantungan pada obat
Mencegah kerusakan esofagus lebih lanjut
Memperbaiki fungsi pencernaan, tidur, dan kenyamanan makan
Meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Jika kamu sering mengalami gejala seperti nyeri ulu hati, dada terasa panas seperti terbakar (heartburn), mulut sering terasa asam pahit atau asam, mungkin kamu mengalami GERD. Segera konsultasi ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat.
Primecare Hospital menyediakan layanan untuk GERD, mulai dari konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam, hingga tindakan operasi dengan dokter spesialis bedah jika diperlukan. Klik tombol di bawah ini untuk informasi selengkapnya!
Referensi:

Batu empedu adalah endapan yang mengeras menjadi batu dan terdapat pada kantong empedu yang disebabkan oleh kolesterol, garam empedu, atau bilirubin (pigmen empedu) yang berlebihan. Penyakit ini dapat menyebabkan adanya sumbatan pada saluran empedu yang dapat menimbulkan berbagai gejala penyakit, bahkan dapat juga menimbulkan kondisi yang mengancam nyawa. Oleh sebab itu, perlu dilakukan terapi untuk mengobati batu empedu, salah satunya dengan prosedur operasi.
Kantong empedu adalah organ kecil di bawah hati yang terletak di sisi kanan atas perut yang berfungsi menyimpan cairan empedu untuk membantu pencernaan. Jika terdapat batu empedu pada organ ini, dapat dilakukan operasi batu empedu. Operasi batu empedu disebut juga sebagai kolesistektomi, yaitu prosedur pembedahan untuk mengangkat kantong empedu. Jika kantong empedu sudah diangkat, cairan empedu akan mengalir langsung dari hati menuju usus halus.
Tindakan operasi batu empedu direkomendasikan jika kantong empedu mengalami kondisi berikut:
Memiliki batu empedu yang menimbulkan gejala, seperti nyeri perut bagian kanan atas, nyeri perut yang semakin parah setelah makan, mual muntah, dan demam.
Kantong empedu mengalami peradangan atau infeksi (kolesistitis).
Batu empedu mengarah pada keganasan.
Terdapat dua metode utama untuk mengangkat kantong empedu:
Metode ini merupakan metode pembedahan konvensional dengan cara membuat satu sayatan besar di sisi kanan atas perut untuk mengangkat kantong empedu.
Metode ini bersifat minimal invasif dimana dokter akan membuat 3 hingga 4 sayatan kecil di perut dan menggunakan alat bernama laparoskop (tabung tipis dengan kamera video) yang akan menampilkan organ-organ dalam di monitor untuk kemudian dilakukan pengangkatan kantong empedu melalui satu sayatan.
Prosedur Operasi Batu Empedu
Prosedur operasi dikerjakan sesuai dengan metode operasi yang dipilih, yaitu:
a. Metode Kolesistektomi Terbuka
Pasien diberikan pembiusan atau anestesi umum selama operasi.
Dokter akan membuat sayatan besar sekitar 10-15 cm.
Dilakukan pengangkatan kantong empedu
Pada beberapa kasus, dokter akan memasang selang di area sayatan untuk memantau cairan yang keluar.
b. Metode Laparoskopi
Pasien diberikan pembiusan atau anestesi umum selama operasi.
Dokter akan membuat beberapa sayatan kecil
Dimasukkan gas karbon dioksida ke dalam perut agar mengembang dengan tujuan kantong empedu dan organ sekitarnya akan terlihat jelas.
Alat laparoskop dimasukkan ke dalam salah satu sayatan
Dokter akan mengangkat kantong empedu dengan alat bedah melalui sayatan lain.
Setelah dilakukan operasi, baik pada metode operasi terbuka maupun laparoskopi, luka sayatan akan ditutup dengan perban steril. Lalu, kantong empedu yang telah diangkat akan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan.
Setelah dilakukan operasi, tentunya pasien akan memasuki masa pemulihan, baik ketika masih di rumah sakit maupun di rumah.
Pasien akan dipantau di ruang pemulihan. Pasien akan diberikan obat antinyeri dan dikonsumsi sesuai kebutuhan. Pasien diperbolehkan makan dan minum sesuai anjuran dokter.
Di rumah
Jaga kondisi luka agar tetap kering dan bersih.
Konsumsi obat antinyeri jika dibutuhkan
Pasien dapat memulai melakukan aktivitas fisik sedikit-sedikit, seperti berjalan atau aktivitas ringan. Hindari melakukan aktivitas berat.
Pasien disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter pasca operasi jika mengalami gejala berupa:
Demam atau menggigil.
Kemerahan, bengkak, perdarahan, atau keluarnya cairan dari luka sayatan.
Munculnya kuning pada kulit atau mata.
Nyeri perut, kram, atau pembengkakan pada perut yang bertambah parah.
Terdapat gangguan pencernaan, dapat berupa tidak buang air besar dan gas (kentut) selama 3 hari.
Jika Anda dicurigai mengalami batu empedu, maka sebaiknya ke dokter...

Mual adalah rasa tidak nyaman di perut. Rasa tidak nyaman ini seperti rasa ingin memuntahkan isi perut. Namun, rasa mual tidak selalu dibarengi dengan muntah. Rasa mual jika dibiarkan tentu akan sangat mengganggu karena dapat menurunkan nafsu makan. Seringkali orang yang merasakan mual akan sulit untuk makan, meskipun perutnya dalam keadaan lapar.
Saat kita mengonsumsi makanan berlemak, tubuh kita akan mulai memproses pencernaan makanan yang kompleks karena melibatkan lambung, kantung empedu, pankreas, dan usus halus. Sistem pencernaan akan mengeluarkan cairan empedu untuk mengemulsi lemak dan enzim seperti lipase untuk memecah kandungan lemak tadi. Mual dan muntah sebagai respons terhadap makanan berlemak seringkali bertindak sebagai mekanisme perlindungan karena memberi sinyal bahwa tubuh tidak dapat memproses dengan benar apa yang telah dicerna.
Beberapa kondisi medis atau penyakit tertentu dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mencerna lemak yang menyebabkan mual, di antaranya:
Kondisi ini adalah penyebab umumnya terjadinya mual setelah makan makanan berlemak. Penyakit kantung empedu meliputi batu empedu, kolesistitis(peradangan pada kantung empedu), diskinesia billier (kondisi kantung empedu yang tidak berfungsi dengan baik meskipun tdk ada batu empedu)
Gangguan ini dapat menyebabkan hipersensitivitas terhadap distensi lambung yang diperburuk oleh lemak. Konsumsi lemak juga dapat menunda pengosongan lambung pada pasien dengan dispepsia fungsional
Peradangan pada pankreas mengganggu produksi enzim lipase yang sangat penting untuk mencerna lemak.
Gangguan ini menyebabkan perlambatan pengosongan lambung. Lemak secara alami membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Jika mengalami gastroparesis, proses pencernaan lemak akan semakin lama.
Kondisi lain seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS) dapat meningkatkan sensitivitas terhadap makanan berlemak sehingga menimbulkan mual setelah makan makanan berlemak. Kondisi lainnya adalah GERD, intoleransi makanan, dan malabsorpsi.
Mual setelah makan makanan berlemak kadang disertai dengan gejala lain. Gejala lain ini dapat menjadi petunjuk penyakit yang mendasari munculnya gejala ini.
Nyeri perut yang dirasakan biasanya bersifat tajam dan terletak di perut kanan bagian atas yang mengacu pada masalah kantung empedu. Jika nyeri dirasakan menjalar ke belakang mengindikasikan gejala pankreatitis.
Ini termasuk perut kembung, perasaan kenyang berlebihan, sendawa, dan ketidaknyamanan di perut bagian atas.
Makanan berlemak dapat mengendurkan katup kerongkongan bagian bawah, yang menyebabkan refluks asam lambung dan regurgitas (isi lambung naik kembali ke mulut) dan menimbulkan dada terasa panas.
Beberapa cara di bawah ini dapat dilakukan untuk mengatasi keluhan mual setelah makan makanan berlemak, yaitu:
Kurangi porsi makanan berlemak dan makanlah dalam porsi kecil, tetapi lebih sering. Prioritaskan lemak sehat seperti minyak zaitun, alpukat, dan kacang-kacangan daripada lemak pada makanan yang digoreng atau lemak jenuh.
Pertahankan posisi tegak setidaknya selama tiga jam setelah makan untuk membantu pencernaan.
Karena stres dapat memengaruhi poros otak dan usus (gut brain axis), penting untuk mengelola stres, salah satunya dengan praktik relaksasi.
Keluhan mual setelah makan makanan berlemak perlu dikonsultasikan ke dokter jika terus berlanjut selama lebih dari dua minggu. Usahakan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala seperti di bawah ini:
Nyeri perut secara tiba-tiba, semakin sering, atau bertambah parah
Demam tinggi
Kulit menguning dan muncul kuning di mata.
Muntah terus-menerus selama lebih dari 24 jam atau terdapat darah pada muntah
Adanya tanda-tanda dehidrasi
Pasien dapat berkonsultasi ke dokter umum jika mengalami mual setelah makan makanan berlemak untuk penanganan awal. Jika ditemukan tanda spesifik ke arah penyakit tertentu yang butuh penanganan khusus seperti ditemukannya gejala yang mengarah pada pankreatitis ataupun masalah kantung empedu, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.
Jika pasien mengalami gejala gawat darurat seperti nyeri perut yang tidak tertahankan, muntah terus-menerus dan terdapat darah, serta ada tanda dehidrasi, maka pasien dapat dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat.
Sumber:

Setelah merayakan Lebaran dengan berbagai hidangan lezat seperti opor ayam, rendang, dan kue manis, serta makanan khas daerah lainnya sesuai tujuan mudik, penting untuk kembali memperhatikan kondisi tubuh.
Konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan kolesterol selama hari raya bisa berdampak pada kesehatan jika Anda sering binge eating atau mindless eating, apalagi jika jadi semacam “balas dendam” karena makan cukup berkurang dan berat badan turun ketika bulan puasa.
Jadi, harus apa setelah lebaran? Salah satunya adalah MCU.
Mengapa Perlu Medical Check Up Setelah Lebaran?
Berikut alasan mengapa Anda perlu MCU setelah lebaran:
Pola Makan Tidak TeraturSelama Lebaran, orang-orang cenderung makan berlebihan dan tidak terjadwal karena banyak bersilaturahmi ke rumah saudara/keluarga. Apalagi, banyak sekali makanan enak yang dimasak, tentu tidak enak kalau dihabiskan.
Risiko Penyakit Tertentu Meningkat karena Konsumsi Makanan secara Berlebihan
Konsumsi makanan tertentu seperti gula, garam, dan lemak secara berlebihan bisa meningkatkan risiko penyakit ini:
Kolesterol tinggi
Diabetes
Tekanan darah tinggi